-->

Keutamaan Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling bersemangat di alam berbuat kebaikan, apalagi di dalam bulan Ramadhan, maka di bulan ini beliau lebih bersemangat lagi, hal ini sebagaimana penuturan istri beliau ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,


عن عائشة رضي الله عنها قالت : كَانَ رسولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ
يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ . رواه مسلم

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan, tidak sebagaimana di bulan selainnya. Dan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih bersungguh-sungguh melebihi hari lainnya.”(HR.Muslim) .
Hadits di atas memiliki beberapa faidah diantaranya :
1.Disunnahkan mempergunakan waktu-waktu yang utama untuk melakakukan ketaatan.
2.Penjelasan tentang keutamaan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
3.Penjelasan tentang kegigihan Rasulullah dalam melakukan ketaatan kepada Rabbnya dan kesunnguhan beliau dalam mencari ridha-Nya.

Dan di hadits yang lain ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,


كَانَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ ، أحْيَا اللَّيْلَ ، وَأيْقَظَ أهْلَهُ ، وَجَدَّ وَشَدَّ المِئزَرَ. متفقٌ عَلَيْهِ .

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya, dan giat beribadah,serta mengencangkan ikatan sarungnya,(tidak mengumpuli istri-istrinya).”(Mutafaq ‘alaihi)
Kandungan hadits :
1.Penjelasan keistimewaan ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kesabaran beliau dalam menjalankannya.
2.Tidak berkumpul dengan istri pada waktu-waktu semacam ini dapat membuat seseorang lebih bersemangat dan tekun dalam beribadah.
3.Disunnahkan rutin dalam mengamalkan suatu ibadah, khususnya pada waktu-waktu seprti ini(10 hari terakhir Ramadhan)
4.Hendaknya menganjurkan keluarga untuk beribadah juga, mengarahkan mereka untuk berbuat ketaatan dan menyuruh mereka shalat.

Semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut dikarenakan pada waktu-waktu ini adalah waktu yang di dalamnya terdapat lailatul qadr, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha


. (( تَحرَّوا لَيْلَةَ القَدْرِ في العَشْرِ الأواخرِ منْ رَمَضانَ ))متفقٌ عَلَيْهِ

“Bersungguh-sungguhlah untuk mencari malam Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”(Mutafaq ‘alaihi)

Bahkan di hadits yang lain disebutkan bahwa lailatul qadr berada pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir.


عن عائشة رضي الله عنها : أنَّ رسولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ )) رواه البخاري

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bersungguh-sungguhlah untuk mencari malam Lailatul Qadr pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”( (HR.al-Bukhari)

Maka hadits di atas menentukan kepastian hadits sebelumnya yang menjelaskan waktu mencari lailatul qadr, yaitu pada malam malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.Dan amalan yang beliau lakukan di sepuluh hari terakhir adalah i’tikaf sebagaimana penuturan istri beliau yang tercinta ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :
كَانَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - يُجَاوِرُ في العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَان )متفقٌ عَلَيْهِ( .

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan”(Mutafaq ‘alaihi)

Dan makna يُجَاوِرُ:I’tikaf
Kandungan hadits :
1.Disunnahkan beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
2.Lailatul qadr terdapat pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.
3.Disunnahkan mencari waktu-waktu utama untuk menghidupkan malam lailatul qadr dengan ketaatan, shalat, dzikir, dan membaca al-Qur’an..

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan umatnya untuk mencari lailatul qadr karena malam lailatul qadr adalah malam yang utama yang apabila kita beribadah pada malam itu maka itu lebih baik dari beribadah seribu bulan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,


إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3} تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ {4} سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {5}
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS.Al.Qadr:1-5)

Oleh sebab itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah doa yang hendaknya diperbanyak untuk dibaca apabila mendapatkan lailatul qadr, sebagaimana yang terdapat dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi,


عن عائشة رضي الله عنها ، قالت : قُلْتُ : يَا رسول الله ، أرَأيْتَ إنْ عَلِمْتُ أيُّ لَيلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : (( قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنّي )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح )) .

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :”Aku pernah berkata:’Wahai Rasulullah! Beritahulah kepadaku tentang apa yang harus dibaca jika aku mendapatkan malam lailatul qadr?’Beliau menjawab:’Ucapkanlah:’Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.’”(HR.Tirmidzi, hasan shahih)
Kandungan dari hadits ini :
1.Lailatul qadr mempunyai tanda-tanda yang terkadang diketahui sebagian orang dan tidak oleh yang lainnya.
2.Disunnahkan bertanya kepada ahli ilmu terlebih dahulu apabila ada suatu hal yang penting, sebelum dilakukan.
3.Al-‘Afuwwu :Maha Pemaaf, salah satu Asma/nama Allah.
4.Penegasan dan penetapan sifat Mahabbah/cinta bagi Allah dan Allah mencintai maaf.
5.Memohon kebaikan akhirat didahulukan daripada memohon kebaikan dunia. Sebab, lingkup keberuntungan dan kemenangan adalah akhirat.
6.Apabila seorang hamba Allah mengetahui saat mustajab atau merasa dalam kondisi dekat dengan Allah maka seyogyanya dia menampakkan kefakirannya dan kecenderungan hatinya kepada Rabb yang Mahabenar.

Dan barang siapa yang shalat malam dengan penuh keimanan dan perasaan mengharap pahala pada malam yang bertepatan dengan malam lailatul qadr, maka Allah akan mengampuni dosanya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,


(( مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

“Barang siapa shalat malam pada lailatul qadr dengan penuh iman dan mengharap pahala, akan diampuni baginya dosa yang telah lalu.”(mutafaq ‘alaihi)

(Syarah Riyadhush Shalihin,pustaka Imam Syafi’I jilid 4 hal 26-31 dengan perubahan susunan)
LihatTutupKomentar